DISKUSI RASA PARA MUSAFIR

Oleh:
RAHMAD



Saya tak tahu, apa pertemuan hari itu terjadi begitu saja? Hari itu, Imam baru saja tuntaskan shalat Jamaah itu dengan salam. Saat sang fajar masih enggan menampakkan diri di ufuk timur. Sedikit berbeda dari biasanya, saya menyempurnakan ibadah agak jauh dari tempat semula, kantin kapal pelni KM-Ciremai. Kondisinya tidak memungkinkan untuk tetap berada dalam mushollah, lantaran tak sedikit yang mengantri untuk sesegera menunaikan kewajibannya.


Cahaya meneduhkan itu hadir bersama dengan angin Samudra antara pulau Jawa dan Sulawesi tepat tanggal 18 Juli 2017. Memilih duduk tepat bersebelahan dengan tangga masuk. Kuseruput kopi yang kusiapkan sebelum keluar dari kabin kapal. Saya tak sendiri duduk di meja itu tersebut, seorang pemuda yang tampaknya juga sedang menikmati waktu senggang tersebut. Basa basi saya mulai bertanya dengannya berkata: “kopi yang kaka minum cak mana harganya?” memolesnya dengan nada melayu. Singkat ia menjawab: “Lumayan mahal jika dibandingkan harganya di darat”. Dalam hati saya berkata orang ini pasti islam, terlihat dari perawakannya. “kira-kira bagaimana yah hukumnya di dalam islam?” sambungku. Tiba-tiba saja, muncul sesosok pemuda lain yang terlihat bersahaja dengan baju gamis putih digunakannya, nampak sedang membayar kopi yang masih dalam genggamannya. Cepat menyodorkan pertanyaan sekaligus permintaan kepadanya sesaat setelah dia menyelesaikan permbayaran: “kak maaf, bisa berbagi ilmu kah?” dengan mimik penuh harap. Garis lengkungan di wajahnya itu masih berkesan di benakku saat menulis catatan ini, dia menjawab “ Oh ya…Insya Allah bisa dek”

***
Singkat cerita, diskusi mengenai sedikit hukum tentang jual-beli itu mencerahkan bagi kami yang masih kebingungan dengan kondisi baru tersebut, dengan beliau mengutip beberapa ayat dalam Al-Quran dan hadist dari Rasulullah SAW. Namun, bukan itu inti dari tulisan ini. Kata demi kata, kalimat demi kalimat keluar dari bibirnya dengan fasih. Hampir-hampir mataku tak berkedip mengamati penjelasannya. Wajah yang bercahaya seakan mengisyaratkan bahwa dirinya selalu dibasuh dengan air wudhu. Sedikit lincah, kaca mata menghiasi perawakannya, saya kala itu yakin bahwa orang yang ada di hadapanku ini bukanlah orang biasa. Fasihnya dia berbicara memberi siluet tentang kayanya rasa yang telah di cicipi dalam kehidupan.


Tak lama kemudian, perkenalan diawal pun menjadi tidak biasa-biasa saja. Semakin berkesan saat menuturkan tentang perjuangan hidup yang diarungi. Bagian inilah yang saya suka setiap kali berbicara denga orang lain. “Setiap orang punya cerita, dan setiap cerita itu ilmu bagi orang lain”, demikian nasehat Bapak saya dalam hal pergaulan, karena itu jualah saya hobi baca biografi, dan terkadang menuliskan di kertas jika teramat berkesan. Namanya Fadli Muin, “panggil Fadli saja” kata beliau. Kepribadian sangat sederhana, bahkan saking sederhananya, saya tak menyangka pada saat itu bahwa beliau memiliki pekerjaan penting dalam ekonomi di negara ini, terkhusus bagian Kawasan Timur Indonesia. Beliau seorang pegawai Bank Sentral (Bank Indonesia).


Kesuksesan berkarir bukanlah mudah diraihnya. Latar belakang keluarga yang tidak menyangka orang berfikiran dirinya akan sampai di titik sekarang, jabatan kasir Bank Indonesia (BI). “tidak ada bank yang akan mempekerjakan orang seperti kamu (sambil melihat postur tubuh yang sedikit kecil)” kata orang disekitarnya sebelum beliau diterima kerja. Buruh angkut barang pelabuhan Makassar adalah pekerjaan ayah dan pedagang kecil-kecilan di sekitaran tempat yang sama yakni keseharian Ibu beliau. Namun, dengan pekerjaan tersebut, kata beliau mampun membiayai hidup dan sekolah dirinya dan saudara-saudaranya. “kalau hanya mengharap uang dari mama-bapak nak, kamu tidak akan  lanjutkan sekolahmu” kurang lebih demikian beliau menutur kalimat orang tuanya. Nampak mata berkaca-kaca dihadapanku. Hampir semua pekerjaan yang berat, seperti Buruh bangunan, Angkut barang, jual ikan, tukang parkir, pemulung, pekerja pabrik, pengamen, guru di SMA Frater Makassar, kurir surat dan masih banyak lagi yang telah digelutinya hanya demi bertahan untuk sekolah, "kalau bukan Rahmat dan Kasih Sayang Allah SWT. saya tidak tahu apa yang terjadi" tutur beliau. Bahkan, untuk mencapai titik pekerjaannya sekarang, beliau melalui 10 kali tes (tertulis-wawancara) yang waktunya lumayan lama yaitu 1 tahun. Satu usaha yang di zaman sekarang ini teramat jarang dilalui orang-orang, karena lulus dengan uasaha murni kemampuan sangat menguras tenaga.


Dari semua hal diceritakan,  sangat luar biasa di zaman sekarang. Ada realitas yang harus diketahui oleh orang-orang ingin melalui jalur hidup tersebut. Menyayangi kedua orang tua (bahkan dalam setiap doanya, orang tuanyalah yang pertama didoakannya baru kemudian dirinya dan orang lain) dan paling utama yakni beliau teramat yakin dengan janji Tuhan bahwa barang siapa yang mengingat Diri-Nya dalam setiap kegiatannya maka Dia akan mengingat orang tersebut dan memberikan rezky dari jalan yang tidak disangka-sangka. Disamping pekerjaanya, bapak dari 4 orang anak tersebut ikut aktif dalam kegiatan Dakwah agama di Makassar dan sekitarnya, hal itu di ucapkan oleh Bapak TNI yang sedang ditugaskan mengawal beliau untuk membawa barang bawaan rahasia milik negara.




Saya salah satu pengemar lagu band Fourtwnty, judul tulisan ini saya kutip dari potongan syair lagunya yang berjudul “Diskusi Senja”. Sedikit banyaknya yang dimaksud bermanfaat oleh penulis dititik beratkan pada refleksi mendalam tentang jalan hidup seseorang, lebih sederhananya kemampuan untuk ikut meresakan apa yang dirasakan oleh seorang Fadli Muin. Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi sosok anak Buruh di Pelabuhan Makassar yang dengan gigihnya meraih cita-cita. Tidak sedikit pemuda di negeri tercinta merasakan kondisi yang sama, namun amat sedikit yang dapat menembus batas-batas kewajaran manusia normal yang berusaha. Semua rahasianya itu menurut kak Fadly (sapa penulis terhadap beliau) adalah keyakinan akan yang Ilahi.

Comments