Kesaksiam Malam (Sebuah Puisi)



Aku duduk diteras seperti biasa sepulang kerja ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok Marlboro hitamku sembari memandangi kemaluan cahaya bintang untuk nampakkan wujudnya dalam gelap malam, cahaya redup yang terjaga selama jutaan tahun lalu, baru tampak dimata. Seruput kopi untuk didihkan darahku agar tetap terjaga dikala hidup terlalu manis dengan buaian zona nyaman,  sesekali menghisap rokok untuk menelan gabutnya hidup agar ku tetap tersadar bahwa betapa dunia hanyalah persinggahan seperti asap rokok yang masuk kemulut kemudian akan keluar dengan bentuk yang sama dan hanya menyisakan aroma asap rokok dalam mulut, tak butuh waktu lama hingga bau menghilang dan tertinggal penyakit yang akan selalu dikenang sebabnya.

Langit mulai menutup diri dalam gelapnya malam, sembunyikan kekosongan tak bertuah dalam pesta ria cahaya bertegangan tinggi dengan gemuru suara getarkan tubuh seakan mengutuk masa lalu yang tak seharusnya ada. Masa dimana air memanas hingga mendidih membentuk gas yang melayang seperti ribuan sayap membawanya terbang tetapi seketika terjatuh dan menyatu bersama air lainnya. Bumi seakan menjawab tanya, dimana letak luka yang terkurung dalam ruang kosong yang menyisahkan sesal.

Kini hujan telah menuruni bumi, menjatuhakan kehidupan diwajah pengharapan, membasahi keriput dataran gersang bertebaran debu, mengenang saat luka terbasuh air mata. Menangkap bekas rintik perlahan menutup permukaan bumi seolah jutaan pukulan tanya merobek naluri, dimana arah sebuah harapan dikala malam tanpa cahaya rembulan sembunyi dibalik murka alam.

Malam semakin membisukan aktivitas, manjakan tubuh yang lelah menunggu mentari terbenam mengakhiri siang. Suara yang tersisa hanya deruan mesin-mesin tak henti menggrogoti telinga hingga mengubah bentuk saraf dalam otak untuk membiasakan diri dengan kebisingan yang setiap malam nyanyikan lagu romansa pengantar tidur untuk mereka yang sedang merindu.



Muh. Edar
Halmahera Selatan, Rabu 8 April 2020

Comments